Pembentukan Kata Berakhiran –i dan –o pada Slang dalam Bahasa Jerman


Pembentukan kata berakhiran –i dan –o pada slang dalam bahasa jerman

 Deddy Kurniawan

Abstrak: Kata-kata berakhiran –i dan –o sering digunakan pada slang dalam bahasa Jerman. Secara tradisional penggunaan kata-kata tersebut cukup dikenal, khususnya pada nama panggilan. Dalam kehidupan sehari-hari kata-kata semacam itu lebih disukai daripada kata-kata bahasa Jerman baku karena bisa membangkitkan kesan santai, akrab, bebas dan terbuka, sehingga pengaruhnya semakin menguat, bahkan pada tataran formal. Hal ini menimbulkan masalah dan menuntut pebelajar bahasa Jerman untuk memahami arti kata-kata tersebut – berdasarkan pola sederhana.

Kata kunci: slang, bahasa Jerman

Abstract:  –i and –o suffixed words are often used in German slang. Traditionally, usage of those words is well recognised, especially as nickname. In daily life are such words preferred than standard German words, because they can give the users so easy going, chummy, free and open impressions, that their influence progressively becomes stronger, even on formal field. This Situation generates difficulties and requires German learners to comprehend the meaning of such words – with a simple pattern.

Key words: slang, German

Pada slang dalam bahasa Jerman kata-kata berakhiran –i dan –o sangat disukai, terutama oleh anak muda. Khusus untuk kata berakhiran –i secara tradisional cukup dikenal dalam bahasa Jerman. Biasanya akhiran –i muncul pada pemendekan nama. Dalam hal ini akhiran –i menunjukkan makna sayang kepada orang yang dipanggil, contoh Mami dari Mama (Androutsopoulos, 2001).
Partridge (1970) menerangkan bahwa slang adalah bentuk bebas dari bahasa baku. Biasanya struktur bahasa ini lebih semarak, terbuka dan lebih menarik daripada bahasa baku. Penggunaan ragam bahasa ini bisa memperkaya khazanah bahasa dan mengeluarkannya dari klise dan kekakuan (Gressman dan Knillman, Tanpa tahun). Karena keistimewaan ini Pike (1967) mengatakan; jika penggunaan slang semakin meluas, suatu saat ia bisa menjadi bagian dari bahasa baku.
Pada perkembangannya pengaruh kata-kata berakhiran –i und –o pada tataran formal menguat, sebagai contoh pada majalah ilmiah dan koran. Oleh karena itu pebelajar bahasa Jerman harus mengenal dan memahami bentuk bahasa ini, sehingga nanti terindar dari kesalahan. Langkah awal yang harus dilakukan adalah memahami pembentukan katanya.
Pembentukan kata mempunyai pengaruh terhadap distribusi sebuah kata (Nikelas, 1988). Untuk mengetahui distribusinya sebuah kata harus dimasukkan dalam konteks atau kalimat. Hal ini berhubungan dengan kemungkinan penggantian kata dalam sebuah kalimat (Bloomfield, 1933). Berdasarkan distribusinya pembentukan kata dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu derivasi (Derivation, Wortableitung) dan infleksi (Flexion,Wortbeugung). Derivasi dapat menghasilkan kata yang mempunyai distribusi berbeda dengan bentuk dasarnya. Identitas leksikal (arti kata) dan identitas gramatikalnya (kelas kata, kedudukan dalam kalimat) juga berubah. Sedangkan infleksi bisa menghasilkan kata yang mempunyai distribusi sama dengan bentuk dasarnya. Dalam hal ini identitas leksikal kata tetap (arti kata), tetapi identitas gramatikalnya (kedudukan dalam kalimat) berubah (Schmid, 2005).
Baik derivasi maupun infleksi bisa melibatkan afiksasi. Menurut Chaer (1994) imbuhan atau afiks merupakan sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada bentuk dasar dalam pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya, imbuhan dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu: imbuhan derivatif dan imbuhan inflektif. Dalam bahasa Jerman imbuhan derivatif cukup banyak, misalnya –sam, –bar, –ung, ver–, um–, ur–, dsb. Sedangkan imbuhan inflektif, misalnya –t, –te, ge–t, dsb. Imbuhan juga dapat digolongkan berdasarkan posisinya pada bentuk dasar, yaitu: awalan, akhiran, sisipan, interfiks, konfiks, sirkumfiks dan transfiks.
Akhiran sebagai imbuhan mempunyai ciri yang berbeda dengan konstruksi morfologis yang lain. Menurut Nikelas (1988) akhiran adalah morfem yang ditambahkan di belakang atau pada bagian belakang bentuk dasar. Dengan penjelasan senada Verhaar (1978) mengatakan bahwa akhiran merupakan morfem gramatikal yang terikat. Schmid (2005) menerangkan bahwa akhiran menentukan makna gramatikal yang berbeda-beda. Kategori akhiran dalam bahasa Jerman, antara lain (1) akhiran diminutif (mempunyai makna kecil), (2) akhiran ajektival (membentuk kata sifat), (3) akhiran pengubah Genus, (4) akhiran nominal (membentuk kata benda), (5) akhiran inflektif (deklinasi dan konjugasi), dan (6) akhiran dari bahasa asing.
Selain akhiran pembentukan kata juga biasa melibatkan pemendekan kata. Dalam morfologi dikenal 3 (tiga) macam pemendekan, yaitu (1) singkatan: huruf pertama pada beberapa kata diambil dan disusun menjadi konstruksi morfologis baru (Chaer, 1994); (2) kliping: bagian kata dipotong dan sisanya menjadi konstruksi morfologis baru yang bisa berdiri sendiri (Nikelas, 1988); dan (3) akronim: Huruf pertama, suku kata pertama dan bagian lain dari beberapa kata diambil dan disusun menjadi konstruksi morfologis baru (mirip singkatan).
Baik pemendekan maupun sufiksasi merupakan proses morfologis yang dapat memicu proses lain semisal proses morfofonemis (Chaer, 1994). Steigeberg (1981) mengemukakan bahwa proses morfofonemis adalah perubahan fonem yang terjadi karena proses morfologis. Lebih lanjut Lyons (1968) menjelaskan bahwa proses morfofonemis terletak di antara morfologi dan fonologi. Namun proses ini masuk ke dalam bahasan morfologi karena berhubungan langsung dengan proses morfologi (pembentukan kata). Menurut Chaer (1994) proses morfofonemis menghasilkan realisasi (bentuk) berlainan pada morfem yang sama.Bentuk tersebut dikenal dengan alomorf. Alomorf dari sebuah morfem satu sama lain mirip secara morfologis dan fonologis. Namun alomorf tersebut muncul sebagai kata dalam konteks morfologis dan fonologis yang berbeda (terklasifikasi secara komplementer) (Schmid, 2005). 
Pada mulanya penelitian ini dititikberatkan pada tujuan teoritis, tetapi juga dimungkinkan untuk digunakan dalam konteks praktis, terutama dalam bidang linguistik dan pengajaran bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menerangkan penggunaan kata-kata berakhiran –i dan –o pada slang dalam bahasa Jerman; (2) memaparkan pembentukan konstruksi morfologis pada kata-kata berakhiran –i dan –o pada slang dalam bahasa Jerman; (3) memaparkan pengaruh pemendekan dan sufiksasi pada perubahan kelas kata pada slang dalam bahasa Jerman; dan (4) memaparkan proses morfofonemis pada kata-kata berakhiran –i dan –o pada slang dalam bahasa Jerman.
[...]
SIMPULAN DAN SARAN
Pada awalnya kata-kata berakhiran –i dan –o pada slang dalam bahasa Jerman hanya digunakan oleh anak muda dalam percakapan sehari-hari. Seiring dengan perkembangan jaman kata-kata ini sangat disukai dan digunakan oleh banyak penutur dari berbagai daerah, kelas sosial, kelompok umur dan jenis kelamin. Lambat laun penggunaan kata-kata dalam bahasa lisan dengan ragam bahasa intim dan akrab tersebut meluas pada ragam bahasa tulis dengan ragam bahasa resmi dan baku – kata-kata berakhiran –i dan –o tidak akan dijumpai dalam ragam bahasa beku. Dengan kata lain pengaruh kata-kata tersebut meluas. Perkembangan ini bisa diamati di koran atau majalah yang sering menggunakan kata-kata berakhiran –i dan –o, meskipun intensitas kemunculannya rendah. Pada suatu ketika bisa jadi kata-kata semacam ini menjadi bagian dari bahasa tulis dengan ragam formal dan baku. Hal ini telah terjadi pada kata-kata seperti Bus (Omnibus), Zoo (zoologischer Garten), dan sebagainya. 
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berguna bagi dunia pendidikan bahasa dan perkembangan ilmu linguistik secara umum. Namun hal ini akan lebih bermanfaat, jika pendekatan dan obyek penelitiannya diperluas dan diperdalam. Dalam hal ini penelitian diharapkan tidak hanya terkonsentrasi pada aspek morfologis kata-kata berakhiran –i dan –o pada slang dalam bahasa Jerman yang teoretis, tetapi juga menyentuh aspek-aspek lain yang lebih praktis seperti sosiolinguistik, psikolinguistik dan pengajaran bahasa.
[...]

No comments:

Post a Comment